Berjalan Dengan Kamu

Apa kamu ingat saat pertama kali kamu ajak aku untuk berjalan bersamamu? Menggandeng tanganmu dan tidak ragu dengan seorang laki-laki seperti dirimu? Apa kamu ingat saat pertama kali kamu menjelaskan padaku kalau ada banyak abu-abu yang menunggu kita nanti? Apa kamu ingat saat pertama kali abu-abu menyerang kita berdua dan berjalan berdua terasa mulai berat? Apa kamu ingat saat kita membagi beban bersama tapi kita tetap bergandengan?

‘Kita’ tidak pernah mudah. Kamu dan aku yang paling tahu. Tapi kita tidak pernah saling melepaskan. Kita tidak pernah memilih berpisah. Dan kita tidak pernah mengambil jalan yang berbeda saat ada simpang tiga. Kita selalu mengambil jalan yang sama, kita selalu berjalan sesampingan walau itu menuai banyak air mata.

Pada kenyataannya kamu tidak membawaku kemana-mana. Belum. Kita belum mendekati masa depan yang direncanakan. Tapi aku menikmatinya karena tidak ada yang lebih kuinginkan selain tetap berjalan bersamamu, entah itu menuju serangkaian abu-abu lain, aku tidak peduli.

Aku sayang kamu, lebih dari apapun, kamu tahu kan?

Tapi kita tidak bisa selalu menjadi naif. Kita bisa saja terlalu tenggelam dalam kasih sayang dan lupa dengan apa kita sebenarnya. Dan kita bisa lupa dengan perjalanan kita yang mirip seperti jalan ditempat. Kita bisa mengesampingkan para penghalang.

Lalu pada titik tertentu, hal yang kita takutkan akan datang juga. Masa-masa dimana kita masih ingin berjuang tapi perjuangan itu tidak akan membawa kita kemana-mana dan terlalu banyak abu-abu yang menyerang.

Tidak ada yang bisa kita lakukan selain melepas genggaman atau kita berdua akan terluka karenanya. Walau akan terlalu berat untukmu melepaskan dan terlalu sakit untukku merelakan – akhirnya inilah jalan harus kita ambil agar kita sama-sama selamat.

Lalu kamu bilang “Mari kita ambil jalan pintas. Kita tidak perlu memutar, kita tidak perlu berjalan terlalu jauh, aku takut nanti kamu kelelahan. Jadi lebih baik kita berjalan terpisah dan bertemu di persimpangan selanjutnya, setelah itu kita bisa menyambung jalan bersama lagi. Tapi kamu harus percaya padaku sepenuhnya. Benar-benar sepenuhnya. Percayalah aku tidak akan tergoda dengan apa yang aku temui di jalan nanti. Percayalah aku akan sampai lebih dulu di persimpangan dan aku akan menunggumu, selama apapun itu. Aku tidak akan peduli selambat apa kamu berjalan tanpa aku. Yang terpenting adalah kamu tetap berjalan kearah ku. Jangan kira aku tidak takut kehilanganmu. Aku sangat ketakutan. Tapi takutku kalah karena aku percaya padamu. Dan kamu pun harus begitu. Percaya padaku. Aku janji, kita akan berjalan berdua lagi, nanti.”

Sesungguhnya aku mengutuk ide ini. Aku benci dengan segala kemungkinannya. Dan aku tidak ingin berjalan sendirian dengan membiarkanmu berjalan sendiri pula. Tapi aku tahu ini adalah jalan yang terbaik yang bisa kita ambil.

Sekarang mari saling melepaskan. Dan saling mencari jalan kembali berdua. Aku harap jalan itu bersih dari penghalang dan abu-abu.

Hidup dengan bahagia dan tetap ingat aku. Kita akan bertemu di setiap episode bunga tidur. 
Doakan aku, kudoakan kamu. Sampai pada saat kita bisa berdoa dengan ayat yang sama.







Oh, ya, satu lagi. Aku sayang kamu, lebih dari apapun, oke?

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

1 Comments:

  1. Kamu tau ga sih, nad? Aku cengeng banget baca ini😭😢

    ReplyDelete