Pada Meja Bundar Itu
Pada
meja bundar itu kami berkumpul. Kami bertiga. Walau seharusnya aku dan Wawan
berdua dan si jalang itu di pihak lawan sendirian. Tapi aku mulai ragu sejak
kebohongan-kebohongan kecil mulai dilontarkan oleh Wawan – pria yang seharusnya
paling jujur kepadaku. Lalu kebohongan-kebohongan itu menjadi besar dan rumit.
Hingga dia mabuk dalam alibinya sendiri.
Aku
tidak mau memanggilnya pembohong. Karena aku tahu bagaimana dia. Aku tahu
wataknya. Aku tahu sifat dan kebiasaannya. Pokoknya aku yang paling tahu dia.
Sejujurnya, aku tahu dia tidak bermaksud begitu. Dia tidak merencanakan
kebohongan. Tapi mungkin dia terlalu takut melukai perasaanku – dan terlalu
naif untuk menyerah pada hasrat menggapai perempuan lain.
Karena
kebohongan-kebohongan rumit itu kami berkumpul. Kami bertiga. Aku tidak yakin
siapa yang berdua dan siapa yang sendiri. Siapa yang melawan siapa dan siapa
yang menghianati siapa.
Tanganku
bergetar hebat hingga bergidik. Aku menyembunyikannya dengan baik. Aku ingin
berteriak dan menjadi marah didepan mereka berdua. Aku menahannya dengan sabar.
Dan air mataku sudah memaksa keluar, tapi jalang itu tidak pantas melihatnya.
Jadi
kupaksa diriku bertahan untuk tetap duduk diantara mereka dan mencari kebenaran
yang diselipkan dalam hubungan dua orang itu.
Aku
marah dan benci melihat jalang itu disisi lain meja bundar. Dia seharusnya
tidak ada disana. Seharusnya siang ini adalah siang normal yang kuhabiskan
dengan Wawan – mengobrol tak karuan berjam-jam disebuah warung kopi mahal,
membolos kuliah dan menunggu senja datang.
Tapi
aku juga marah dan tak habis pikir ketika ku putar pandanganku padanya. Aku
yang paling kenal orang itu lebih dari perempuan manapun, justru aku yang linglung
dengan kelakuannya dibelakangku.
Seharusnya
dia tidak membiarkanku marah dan frustasi seperti ini kan? Aku kan perempuannya. Dia wajib menjaga perasaanku kan?
Dia
seharusnya yang paling mengerti kalau perempuan manapun tidak suka jika
posisinya digantikan oleh perempuan lain. Tapi dia membiarkan jalang itu duduk
disampingnya ketika dia menyetir. Dia membiarkan jalang itu menggandeng
tangannya dalam gelap. Dia membiarkan jalang itu tahu tentang cerita
hari-harinya.
Yang seharusnya
hanya aku yang tahu. Hanya aku yang boleh duduk disampingnya ketika dia
menyetir, hanya aku yang menggandeng tangannya dalam gelap – maupun terang,
hanya kepadaku seharusnya dia membagi cerita tentang hari buruk dan baiknya.
Tapi
dia justru membagi posisi istimewaku menjadi dua. Aku sudah bukan tunggal lagi.
Dan kepada siapa harusnya aku marah?
Dan
saat jalang itu mencuri lihat pada dua pasang bola mata Wawan, lalu mereka
berbahasa dalam nada kesal – seperti menyalahkan satu sama lain, seperti dua
kucing yang ketahuan mencuri ikan.... aku berbisik pada diri sendiri –
Jalang itu yang
diantara kami berdua atau aku yang diantara mereka?
ABOUT THE AUTHOR
Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

0 Comments:
Post a Comment