Setiap
selangkah aku menapakkan kaki, rasanya itu adalah langkah menjauhimu. Lama-lama
terasa makin berat. Genap seminggu kita tidak bertemu. Lantas mengapa rasanya
seperti sebulan?
Aku
bangun sendirian di sebilik kamar di daerah Sewon. Tapi merindukan pagi dimana
aku terbangun karena kamu terkejut dalam tidurmu.
Seminggu
lalu kita hampir tidak punya waktu untuk sendiri. Selalu ada kamu dan aku.
Rasanya indah memang. Namun pada akhirnya, kita butuh jarak dan waktu untuk
tahu rasanya rindu.
Ternyata
sehari berjarak cukup jauh denganmu sudah bisa membuatmu tahu apa itu rindu.
Lalu berlanjut hingga seminggu. Sekarang baru aku tahu rindu itu berat kalau
ditahan lama. Dan orang bisa saja melakukan hal gila untuk meredamkannya.
Tapi
setelah ku teliti ternyata rindumu yang menggebu tidak berekspresikan sama
seperti orang lain yang berkiblat pada keinginan untuk menanyakan kabar dan
menelpon setiap sejam sekali hanya untuk mendengar suara orang yang ia rindukan.
Rindumu
adalah rindu dalam diam. Rindu yang dipendam karena tidak ingin
mengkhawatirkan. Rindu yang sengaja tidak sampaikan. Rindu yang bungkam.
Saat
tertentu, yang aku mau hanya terbang kembali ke rumah. Mengendarai motor menuju
kearahmu. Tersenyum karena akhirnya aku bertemu si bodoh yang rindu saja tidak
mau bilang.
Jarak
dan waktu pada akhirnya mengajarkan kita, kalau ada saatnya kita terpisah.
Mungkin setelah aku kembali nanti, kamu akan lebih menghargai kebersamaan kita
karena itulah yang diajarkan oleh rindu.
Untuk
saat ini, jarak dan waktu masih membatasi kita. Jangan lelah menunggu sampai
jarak mempersempit dan kamu berikan janji satu pelukan untukku. Tunggulah
sampai matahari terbit lalu terbenam lagi. Jangan hitung hari yang berlalu tanpa
aku, hitung rindu yang kamu kumpulkan hingga menggunung.
Jarak
dan waktu bukan hakim. Mereka tidak memutuskan hati siapa yang menang. Namun
tahanlah barang sedikit lagi.
Aku akan pulang.
