Sepasang mata coklat
itu dibungkus dengan kerinduan. Pertemuan terakhir kami, bagaimana aku bisa
melupakannya.
Matahari sedang
bermain petak umpet, bersembunyi dibalik awan sore yang tipis. Angin sedang
bersiul dan mengacak-acak rambutku, sedangkan bulan belum muncul dari peraduan.
Sore itu
menyegarkan, tapi tidak untukku. Tawa polos bocah-bocah bersepeda mengetuk
gendang telingaku. Seketika membuatku geli dan sedikit mual. Mual yang
disebabkan oleh seekor naga – yang sedang marah tetapi juga menangis – tinggal
menjadi parasit didalam hatiku.
Sandal kebesaran
milik Rio – kakak laki-lakiku – kubawa kabur tanpa minta izin. Kakiku terus
mengambil langkah panjang, dadaku naik turun, napasku memburu dan tak
beraturan, pandanganku buram terbiaskan oleh air mata, persetan dengan tetangga
yang memerhatikan gerak-gerikku atau yang mencoba menyapaku. Aku sedikit
menyesal karena lupa membuat tulisan dengan kertas f4 bahwa “AKU SEDANG TIDAK
INGIN DIAJAK BICARA!” agar mereka tidak memperlambatku untuk mencapai tujuan
dari kaki yang terus membawaku melangkah menjauhi rumah.
Aku tidak
mengeluarkan sepatah katapun sejak kemarin alih-alih hanya air mata yang
berderai. Aku hanya ingin berbicara pada satu orang saja. Pemilik sepasang mata
coklat itu. Menatap dalam kearahnya dan mencari cinta disana.
Bara.
Kukira aku dan Bara
tidak akan terpisahkan. Klasik sekali, bukan?
Bara adalah teman
rahasiaku. Juga cinta rahasiaku.
Lalu aku dan Bara
berniat untuk membagi rahasia kami pada orangtua. Pada Mom dan Dad. Mengakui
bahwa aku juga bisa jatuh cinta dan menikmati setiap detik dekat dengannya,
tertawa bahkan hanya diam saja. Segalanya bersama Bara.
Malam kelulusan
adalah waktu yang kami anggap paling sempurna untuk berkenalan dan berbagi
cerita dengan anggota keluargaku. Tapi siapa yang menyangka, malam paling
sempurna justru menjadi malam paling luar biasa menyakitkan. Kedua orangtuaku
terkejut dan berubah dingin seketika saatku kenalkan Bara. Dan sisa dari malam
itu hanya samar-samar kuingat. Kalaupun aku ingat, aku tidak berniat membagi
kisah tentang malam suram itu.
Selepas itu, aku
dilarang bertemu Bara lagi. Aku menagih alasan kepada Mom dan Dad mengenai
sikap aneh mereka, namun mereka selalu mengalihkan pembicaraan dan buru-buru menyuruhku
ke kamar, rupanya Mom dan Dad tidak berniat untuk membagi rahasia mereka.
Mungkin seharusnya aku juga tidak.
Jadi, kisah
selanjutnya adalah aku tetap menemui Bara. Kami tetap berbagi rahasia seperti
sebelumnya, aku bercerita banyak hal dan ia mendengarkan. Aku bernyanyi dan
Bara mengiringi – dengan gitar, tentu saja.
Kurang dari sebulan setelah
malam kelulusan itu, Mom dan Dad ingin membicarakan sesuatu denganku, wajah Dad
menceriminkan keseriusan yang menjadi kunci rahasia suksesnya selama
bertahun-tahun sedangkan Mom hanya tertunduk lesu, khawatir dan rasa takut
terlihat diwajah putih pucatnya, Mom menghidari tatapanku. Ada apa sebenarnya,
gumamku dalam hati.
Dad menyodorkan
sebuah map berisi banyak brosur dari satu institusi yang sama, tetapi sebuah
tulisan emas dibagian luar map tersebut sudah menjadi ancaman luar biasa besar
bagiku – ‘UNIVERSITY OF SAN FRANCISCO, CHANGE THE WORLD FROM HERE.’
“San Francisco?”
kataku kaget. “Kenapa terlalu mendadak?” kurasa aku sedikit menaikan volume
suaraku secara tidak sadar.
Mom sepertinya sudah
dapat menebak responku. Langsung saja ia menggeser tempat duduknya dan
memelukku hangat seperti biasa, lalu dengan lembut meminta Dad untuk masuk ke
kamar dan meninggalkan kami berdua saja.
Setelah kami
ditinggalkan sendiri diruang keluarga, Mom menjawab pertanyaanku dengan nada
lembut yang tidak pernah naik lebih dari dua oktaf, “Tidak mendadak, sama
sekali tidak mendadak. Mom dan Dad sudah sering membahas hal ini, jauh sebelum
kau masuk SMA, kami sudah memikirkan kemana kau akan melanjutkan sekolahmu
nanti, tapi Re, waktu ternyata cepat berlalu, ‘nanti’ sudah menjadi ‘kini’.
Sebentar lagi kau akan bersekolah disana”
“But why don’t you mention it to me? Not a
word, mom.” Sahutku pelan.
“It
doesn’t matter, you know it, sweetheart. You have to go, because your father
asks you to.” Dalam hati aku menyesali bahwa apa
yang dikatakan Mom barusan adalah sebuah vonis. Vonis yang tidak dalam diganggu
gugat lagi.
“I can’t leave…”
“Of
course you can, Re, I know it’s hard but you got to try. Ini
sama saja seperti perpindahan-perpindahan kita yang sudah lalu, sama seperti
London, Austria dan Sydney. Kau selalu bisa menyesuaikan diri, kau selalu…”
“Tentu saja aku
bisa, Mom, itu jauh sebelum ada Bara. Jauh sebelum aku mengenal cinta. Jauh
sebelum aku mengenal seseorang yang seperti sebuah cermin dari diriku sendiri.
Apa Mom tidak mengerti bagaimana rasanya?”
“Mom tahu seperti
apa rasanya, percayalah. Tapi Dad mempunyai rencana lain.”
“Rencana apa lagi?” Tanyaku.
“Aku berfirasat bahwa melanjutkan studi di San Francisco bukan alasan utamanya,
Dad pasti punya rencana lain. Beritahu aku sekarang Mom. Tolong jangan
sembunyikan lagi.”
Mom masih membelai
punggungku, mengisyaratkan untuk tenang dan bersabar. Mom hanya menatap lantai,
tak mampu menatapku. “Re, if I tell you
now, will you promise not to be angry to your Dad?”
Sebenarnya apa yang akan terjadi, vonis apalagi yang telah dijatuhkan untukku secara diam-diam, aku membatin. “I promise.” Aku berjanji.
“Dad
mengirimmu ke San Francisco untuk melanjutkan studi. Juga agar kau dapat
bertemu orang baru lagi.”
Orang baru? Aku sudah menghabiskan seumur hidupku
untuk mengenal orang baru, aku tidak pernah menetap. Aku tidak pernah mempunyai
sahabat karena aku tidak menghabiskan cukup banyak waktu untuk tinggal disebuah
tempat. Aku seperti angin yang datang lalu pergi lagi. Tidak bisakah aku
memilih untuk menetap saat sudah ada Bara? Sanggahku dalam hati. “bukan orang
baru seperti yang kau pikirkan, Re.” lanjut Mom seperti bisa memdengar kata
hatiku.
“Kau ingat Max
Steward kecil dari Sydney? Kalian pernah bertemu sekitar 7 tahun yang lalu.”
aku mengganguk kecil. “Max juga akan melanjutkan studi disana, dan Dad ingin
kau mengenal Max. Menjalin hubungan lebih dekat dengannya.” Aku sungguh tidak
percaya apa yang kudengar.
“Dad menjodohkanku? Goodness. Apa aku tidak salah dengar
Mom?” Aku meminta penjelasan itu, bagaimana Dad bisa berpikir untuk
menjodohkanku, apapun alasannya aku sangat keberatan. Tetapi hati Dad bagaikan
baja, aku tidak dapat menembusnya, dan sekarang ia membuat tembok penghalang
yang tak
kasatmata, antara aku dan Bara.
***
Sepasang mata coklat
itu adalah morfin untukku, sebuah obat penenang yang membuatku candu saat
menatapnya. Bara bisa membuatku nyaman, membuatku merasa terlindungi dan
darinya juga aku belajar banyak hal.
Ketika itu aku sudah
sampai didepan pintu rumahnya, Bara yang kulihat hari itu adalah Bara yang
kutemui setiap harinya. Bara yang biasa saja. Bagaimana ia bisa terlihat begitu
datar saat pertemuan terakhir kami adalah pertemuan ini? lalu kulihat lagi
sepasang mata coklat itu, ternyata aku salah. Bara sama sekali tidak terlihat
biasa.
Sepasang mata coklat
itu terbungkus kerinduan. Amat dalam. Seperti kepunyaanku. Mata kami bertemu,
Bara duduk disebelahku setelah memutar film favorite kami – Flipped – Bara
masih disampingku, merangkul bahuku dengan sangat nyata tetapi juga terasa
sangat jauh. Aku sudah merindukannya. Kami sudah saling merindukan.
Tepat setelah
Flipped berhenti berputar, Bara ingin menunjukkan sesuatu untukku.
Ia menggiringku kearah
sudut kamarnya, di meja kayu dengan ukiran dayak dipermukaannya. Macbook itu
lalu menampilkan sebuah video.
Samar-samar alunan
piano yang lembut kudengar, beberapa detik setelahnya disusul suara laki-laki
bernyanyi dan terdengar… penuh kepedihan – suara itu bukan milik Bara, tentu
saja. Lalu seorang laki-laki bertubuh tegap dengan almond shape eyes muncul
sambil tersenyum. Bara. Cinta rahasiaku. Pemilik sepasang mata coklat itu. Tersenyum
kecut kearah kamera, berpura-pura sedang melihatku. Menatap kearahku.
Bara menggapai
sesuatu disamping kirinya, kemudian menunjukkannya kearah kamera. Sebuah kertas
bertulisan “Hai Redina”.
Tiga detik kemudian
ia meletakkan kertas itu ke samping kanannya dan mengambil kertas lain. “Ini
Bara” aku setengah tertawa, aku tahu siapa kau, batinku.
Tulisan itu berganti
lagi “aku ingin membagi sebuah rahasia. Kau tidak pernah tahu kisah ini, jadi
perhatikanlah baik-baik.”
“Sebuah sore cerah ditanggal
4 April, Seorang perempuan berparas indah mirip salah satu dewi Yunani – yaitu Dewi
Artemis – seorang dewi yang diasosiasikan dengan bulan dan busur besar lengkap
dengan anak panah, seorang dewi yang mengendalikan alam liar, begitu tenang
dalam keramaian, duduk sendiri dibawah pohon taman kompleks perumahanku –
sedang membaca buku Karen Kingsbury – matanya fokus pada bacaan, tenggelam dalam
kalimat-kalimat buku A Thousand Years yang tidak asing bagiku.”
“Tiba-tiba ia
terhenyak dan memandang lekat ke siku sebelah kirinya, kurang dari satu detik
Dewi Artemis itu melompat kaget kesembarang arah, kehilangan keseimbangan dan
menabrak Caramelo Frappe ditanganku sebelum aku sempat menghindar.”
“Rupanya dari tadi
ia tidak sadar kalau ada kecoa yang bertengger ditangan mungilnya.”
“Kepanikan terlihat
jelas kedua bola mata Dewi Artemis itu. Ia buru-buru minta maaf dan mengatakan
akan mengganti Caramelo Frappe-ku, diam-diam aku bersyukur kopi itu tidak
tumpah kearahnya ataupun kearahku.”
“Aku seperti
terhipnotis oleh kedua matanya yang memberi kesan teduh, bentuk hidungnya yang
klasik dan bibir tipis yang bertengger memancarkan warna ceri segar,”
“Dia cantik sekali”
Aku tersenyum samar. Bara masih melanjutkan rahasianya dengan kertas-kertas
itu.
“Setelah mengganti
Caramello Frappe-ku, kukira Dewi Artemis itu akan langsung pergi,”
“Ternyata ia justru
mengambil tempat duduk tepat disebelahku – dikursi panjang taman kompleks – aku
dapat melihat jelas dari sudut mataku, bahwa ia sedang menahan keinginan untuk
menyapa atau bertanya sesuatu padaku…”
“Jujur saja saat itu
aku gugup bukan main, apa yang harus aku perbuat jika ia akan membuka sebuah
pembicaraan? Bagaimana jika ia ingin tahu siapa namaku?”
“Lalu kami tenggelam
dalam pikiran masing-masing, duduk berdua dengan perempuan asing, maksudku Dewi
Artemis – begitulah aku memanggilnya sesaat sebelum aku tahu siapa namanya,”
“Bocah-bocah
bersepeda yang berlalu-lalang pun menjadi saksi bisu bahwa tidak seorang dari
kami memperkenalkan diri.”
“Aku ingin sekali
menyapanya lebih dulu, berterimakasih karena sudah mengganti Caramello
Frappe-ku dan bertanya namanya, dimana rumahnya, mengapa aku belum pernah
melihat ia sebelumnya, buku novel favoritenya, makanan kesukaannya –
segalanya.”
“Aku mengutuk diriku
sekali lagi,”
“Tetapi saat itu,
sebuah pemikiran bodoh muncul dalam benakku, bagaimana jika ia adalah benar
seorang dewi Yunani? Dewi Artemis yang dongengnya disamarkan bahwa ia masih
berada didalam hutan untuk mengendalikan keliaran alam? Mungkin Dewi Artemis
juga butuh hiburan, juga butuh membaca novel dan duduk ditaman agar mengetahui
perubahan alam liar menjadi jinak atau sebaliknya. Ia bisa saja pergi sebelum aku
sempat menatapnya lagi dengan sudut mataku,”
“Tahukah kau,
seorang pria yang jatuh cinta bisa saja bertindak bodoh, kapan saja dan dimana
saja? Aku harapkan kebijakan untuk tidak meledekku, setelah kau selesai
menonton video ini.” Aku tertawa bersamanya. Bersama Bara disampingku. Kemudian
Bara di video melanjutkan ceritanya.
“Lalu kukeluarkan
note kecilku yang selalu ku bawa, dan pulpen biru yang menggantung disisi
kanannya, dan kutuliskan dengan pelan ‘Terimakasih sudah mengganti Caramello
Frappe-ku’”
“Dewi Artemis itu
membalas dengan sebuah senyuman, senyuman tipis yang bertahan dua detik
setelahnya,”
“Singkat cerita, aku
tahu namanya. Ternyata dia bukan Dewi Artemis, atau dewi-dewi Yunani yang lain.
Namanya Redina. Menurutku nama itu indah, bukan begitu?”
“Re mengerti aku. Ia
mengetahuinya sebelum aku sempat memberitahu. Lalu ia bercerita banyak hal dan
aku menjadi pendengar yang senantiasa memusatkan konsentrasiku padanya,” “Ia
juga bercerita tentang dirinya yang bukan asli keturunan Indonesia, ibunya asli
orang Inggris. Pantas saja ia mewarisi mata teduh, rambut coklat terang dan
kulit putih pucat yang membuatku berpikir ia adalah kembaran Dewi Artemis.”
“Kemudian,
kesenangan itu seperti menyihir kami dan aku tidak bisa berhenti bertemu
dengannya.”
“Ada banyak sekali
kisah rahasia antara aku dan Dewi Artemis-ku,”
“Kisah tentang
bagaimana aku mengajarinya menggunakan sepeda, sampai dongeng malam yang
dibacakannya untukku lewat telpon rumah.” Sepasang mata coklat itu menerawang.
“Aku mempunyai seseorang yang mengertiku lebih dari aku mengerti diriku
sendiri.”
“Orang itu kamu,
Re.” kertas itu berhenti digenggaman Bara selama sepuluh detik penuh.
“Tapi sekarang, Dewi
Artemis-ku akan bersiap kembali ke alam liar untuk mengurus banyak hal. Jangan
lupa membawa busur besar dan anak panahmu ya.”
“Maaf selama ini aku
diam saja. Maaf selama ini aku tidak dapat menceritakan kisah-kisah rahasia itu
dengan detail seperti yang kau lakukan.” Aku mendapati Bara yang tertunduk di
video itu. Dan mulai mengganti lagi kertas ditangannya.
“Maaf aku tidak bisa
meyakinkan orangtuamu. Aku tidak henti-hentinya mengutuk diriku atas
ketidakmampuanku.”
“Tembok tidak
kasatmata itu sudah mulai dibangun diantara kita. Panjang tembok itu 8656mil,
Re. Panjang sekali bukan?”
“Jangan coba
menghancurkan tembok itu. Kau tak akan bisa menentang ayahmu. Cobalah
mendakinya, berjalanlah diatasnya. Aku bisa menunggu. Kembalilah lagi jika
urusan ‘alam liar’ itu sudah terselesaikan.”
“Aku akan menunggu
Dewi Artemis-ku seperti kisah Odiseus dan Penelope yang pernah kau dongengkan
padaku. Odiseus dan Penelope yang terpisah karena peperangan tetapi
masing-masing insan tetap menjaga cintanya dengan menolak lamaran dari orang
lain, seperti yang pernah kau katakan bahwa itulah cinta sejati, iyakan Re?”
“Menunggu bukan hal
yang berat bagiku, Re. Aku sudah menunggu seumur hidupku dan bertanya-tanya
kapan Tuhan akan menganugrahi ku suara.”
“Kapan ia
mengizinkanku berbicara? Aku ini seorang tuna wicara, Re. Dan kau mengetahuinya
sebelum aku sempat memberitahu, pada hari pertama kita bertemu.”
“Lalu selepas hari
itu, kau tidak pernah gagal memahamiku.”
“Aku menyayangimu
Re. Sungguh. Berharap dapat mengatakannya secara langsung bukan dengan tulisan
atau bahasa isyarat.”
Aku tidak bisa
menahan air mataku lagi. Ku genggam erat tangan Bara dan tidak ingin melepasnya
untuk Max Steward manapun, demi Tuhan.
”Kembalilah jika
menurutmu Max Steward tidak tahan mendengar ocehanmu sepanjang hari, percayalah
aku ini pendengar terbaik yang kau miliki.” Aku tertawa membaca tulisan
dikertas itu dan mengiyakan dalam hati. Bara benar.
Bara menarik tubuhku
pelan kearah tubuhnya. Menyentuh pipiku yang basah dan menghapus air mata
disana.
“Redina…” Tulisan
itu berganti lagi.
“Terimakasih sudah
mengganti Caramello Frappe-ku.” Bara di video tersenyum samar. Sepasang mata
coklat itu mengatakan kalimat perpisahan. Bara meletakkan tangan kanannya di
paras dada, kelima jarinya mengepul dan berputar searah jarum jam, kemudian
kepalan tangan itu membuka, Bara meletakkan jari-jari tangannya dibibir dan mengayunkannya
kearah kamera – merupakan detik terakhir dari video itu, Bara menutupnya dengan
bahasa isyarat yang mengatakan ‘Maaf’ dan ‘Terimakasih’.
