Silver Lining

ranger riding through an open space

Home Archive for November 2013


Sepasang mata coklat itu dibungkus dengan kerinduan. Pertemuan terakhir kami, bagaimana aku bisa melupakannya.

Matahari sedang bermain petak umpet, bersembunyi dibalik awan sore yang tipis. Angin sedang bersiul dan mengacak-acak rambutku, sedangkan bulan belum muncul dari peraduan.

Sore itu menyegarkan, tapi tidak untukku. Tawa polos bocah-bocah bersepeda mengetuk gendang telingaku. Seketika membuatku geli dan sedikit mual. Mual yang disebabkan oleh seekor naga – yang sedang marah tetapi juga menangis – tinggal menjadi parasit didalam hatiku.

Sandal kebesaran milik Rio – kakak laki-lakiku – kubawa kabur tanpa minta izin. Kakiku terus mengambil langkah panjang, dadaku naik turun, napasku memburu dan tak beraturan, pandanganku buram terbiaskan oleh air mata, persetan dengan tetangga yang memerhatikan gerak-gerikku atau yang mencoba menyapaku. Aku sedikit menyesal karena lupa membuat tulisan dengan kertas f4 bahwa “AKU SEDANG TIDAK INGIN DIAJAK BICARA!” agar mereka tidak memperlambatku untuk mencapai tujuan dari kaki yang terus membawaku melangkah menjauhi rumah.

Aku tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak kemarin alih-alih hanya air mata yang berderai. Aku hanya ingin berbicara pada satu orang saja. Pemilik sepasang mata coklat itu. Menatap dalam kearahnya dan mencari cinta disana.

Bara.

Kukira aku dan Bara tidak akan terpisahkan. Klasik sekali, bukan?

Bara adalah teman rahasiaku. Juga cinta rahasiaku.

Lalu aku dan Bara berniat untuk membagi rahasia kami pada orangtua. Pada Mom dan Dad. Mengakui bahwa aku juga bisa jatuh cinta dan menikmati setiap detik dekat dengannya, tertawa bahkan hanya diam saja. Segalanya bersama Bara.

Malam kelulusan adalah waktu yang kami anggap paling sempurna untuk berkenalan dan berbagi cerita dengan anggota keluargaku. Tapi siapa yang menyangka, malam paling sempurna justru menjadi malam paling luar biasa menyakitkan. Kedua orangtuaku terkejut dan berubah dingin seketika saatku kenalkan Bara. Dan sisa dari malam itu hanya samar-samar kuingat. Kalaupun aku ingat, aku tidak berniat membagi kisah tentang malam suram itu.

Selepas itu, aku dilarang bertemu Bara lagi. Aku menagih alasan kepada Mom dan Dad mengenai sikap aneh mereka, namun mereka selalu mengalihkan pembicaraan dan buru-buru menyuruhku ke kamar, rupanya Mom dan Dad tidak berniat untuk membagi rahasia mereka. Mungkin seharusnya aku juga tidak.

Jadi, kisah selanjutnya adalah aku tetap menemui Bara. Kami tetap berbagi rahasia seperti sebelumnya, aku bercerita banyak hal dan ia mendengarkan. Aku bernyanyi dan Bara mengiringi – dengan gitar, tentu saja.

Kurang dari sebulan setelah malam kelulusan itu, Mom dan Dad ingin membicarakan sesuatu denganku, wajah Dad menceriminkan keseriusan yang menjadi kunci rahasia suksesnya selama bertahun-tahun sedangkan Mom hanya tertunduk lesu, khawatir dan rasa takut terlihat diwajah putih pucatnya, Mom menghidari tatapanku. Ada apa sebenarnya, gumamku dalam hati.

Dad menyodorkan sebuah map berisi banyak brosur dari satu institusi yang sama, tetapi sebuah tulisan emas dibagian luar map tersebut sudah menjadi ancaman luar biasa besar bagiku – ‘UNIVERSITY OF SAN FRANCISCO, CHANGE THE WORLD FROM HERE.’

“San Francisco?” kataku kaget. “Kenapa terlalu mendadak?” kurasa aku sedikit menaikan volume suaraku secara tidak sadar.

Mom sepertinya sudah dapat menebak responku. Langsung saja ia menggeser tempat duduknya dan memelukku hangat seperti biasa, lalu dengan lembut meminta Dad untuk masuk ke kamar dan meninggalkan kami berdua saja.

Setelah kami ditinggalkan sendiri diruang keluarga, Mom menjawab pertanyaanku dengan nada lembut yang tidak pernah naik lebih dari dua oktaf, “Tidak mendadak, sama sekali tidak mendadak. Mom dan Dad sudah sering membahas hal ini, jauh sebelum kau masuk SMA, kami sudah memikirkan kemana kau akan melanjutkan sekolahmu nanti, tapi Re, waktu ternyata cepat berlalu, ‘nanti’ sudah menjadi ‘kini’. Sebentar lagi kau akan bersekolah disana”

“But why don’t you mention it to me? Not a word, mom.” Sahutku pelan.

“It doesn’t matter, you know it, sweetheart. You have to go, because your father asks you to.” Dalam hati aku menyesali bahwa apa yang dikatakan Mom barusan adalah sebuah vonis. Vonis yang tidak dalam diganggu gugat lagi.

“I can’t leave…”

“Of course you can, Re, I know it’s hard but you got to try. Ini sama saja seperti perpindahan-perpindahan kita yang sudah lalu, sama seperti London, Austria dan Sydney. Kau selalu bisa menyesuaikan diri, kau selalu…”

“Tentu saja aku bisa, Mom, itu jauh sebelum ada Bara. Jauh sebelum aku mengenal cinta. Jauh sebelum aku mengenal seseorang yang seperti sebuah cermin dari diriku sendiri. Apa Mom tidak mengerti bagaimana rasanya?”

“Mom tahu seperti apa rasanya, percayalah. Tapi Dad mempunyai rencana lain.”

“Rencana apa lagi?” Tanyaku. “Aku berfirasat bahwa melanjutkan studi di San Francisco bukan alasan utamanya, Dad pasti punya rencana lain. Beritahu aku sekarang Mom. Tolong jangan sembunyikan lagi.”

Mom masih membelai punggungku, mengisyaratkan untuk tenang dan bersabar. Mom hanya menatap lantai, tak mampu menatapku. “Re, if I tell you now, will you promise not to be angry to your Dad?”

Sebenarnya apa yang akan terjadi, vonis apalagi yang telah dijatuhkan untukku secara diam-diam, aku membatin. “I promise.” Aku berjanji.

“Dad mengirimmu ke San Francisco untuk melanjutkan studi. Juga agar kau dapat bertemu orang baru lagi.” 

Orang baru? Aku sudah menghabiskan seumur hidupku untuk mengenal orang baru, aku tidak pernah menetap. Aku tidak pernah mempunyai sahabat karena aku tidak menghabiskan cukup banyak waktu untuk tinggal disebuah tempat. Aku seperti angin yang datang lalu pergi lagi. Tidak bisakah aku memilih untuk menetap saat sudah ada Bara? Sanggahku dalam hati. “bukan orang baru seperti yang kau pikirkan, Re.” lanjut Mom seperti bisa memdengar kata hatiku.

“Kau ingat Max Steward kecil dari Sydney? Kalian pernah bertemu sekitar 7 tahun yang lalu.” aku mengganguk kecil. “Max juga akan melanjutkan studi disana, dan Dad ingin kau mengenal Max. Menjalin hubungan lebih dekat dengannya.” Aku sungguh tidak percaya apa yang kudengar.

“Dad menjodohkanku? Goodness. Apa aku tidak salah dengar Mom?” Aku meminta penjelasan itu, bagaimana Dad bisa berpikir untuk menjodohkanku, apapun alasannya aku sangat keberatan. Tetapi hati Dad bagaikan baja, aku tidak dapat menembusnya, dan sekarang ia membuat tembok penghalang yang tak 
kasatmata, antara aku dan Bara.

***

Sepasang mata coklat itu adalah morfin untukku, sebuah obat penenang yang membuatku candu saat menatapnya. Bara bisa membuatku nyaman, membuatku merasa terlindungi dan darinya juga aku belajar banyak hal.

Ketika itu aku sudah sampai didepan pintu rumahnya, Bara yang kulihat hari itu adalah Bara yang kutemui setiap harinya. Bara yang biasa saja. Bagaimana ia bisa terlihat begitu datar saat pertemuan terakhir kami adalah pertemuan ini? lalu kulihat lagi sepasang mata coklat itu, ternyata aku salah. Bara sama sekali tidak terlihat biasa.

Sepasang mata coklat itu terbungkus kerinduan. Amat dalam. Seperti kepunyaanku. Mata kami bertemu, Bara duduk disebelahku setelah memutar film favorite kami – Flipped – Bara masih disampingku, merangkul bahuku dengan sangat nyata tetapi juga terasa sangat jauh. Aku sudah merindukannya. Kami sudah saling merindukan.

Tepat setelah Flipped berhenti berputar, Bara ingin menunjukkan sesuatu untukku.

Ia menggiringku kearah sudut kamarnya, di meja kayu dengan ukiran dayak dipermukaannya. Macbook itu lalu menampilkan sebuah video.  

Samar-samar alunan piano yang lembut kudengar, beberapa detik setelahnya disusul suara laki-laki bernyanyi dan terdengar… penuh kepedihan – suara itu bukan milik Bara, tentu saja. Lalu seorang laki-laki bertubuh tegap dengan almond shape eyes muncul sambil tersenyum. Bara. Cinta rahasiaku. Pemilik sepasang mata coklat itu. Tersenyum kecut kearah kamera, berpura-pura sedang melihatku. Menatap kearahku.

Bara menggapai sesuatu disamping kirinya, kemudian menunjukkannya kearah kamera. Sebuah kertas bertulisan “Hai Redina”.

Tiga detik kemudian ia meletakkan kertas itu ke samping kanannya dan mengambil kertas lain. “Ini Bara” aku setengah tertawa, aku tahu siapa kau, batinku.

Tulisan itu berganti lagi “aku ingin membagi sebuah rahasia. Kau tidak pernah tahu kisah ini, jadi perhatikanlah baik-baik.”  

“Sebuah sore cerah ditanggal 4 April, Seorang perempuan berparas indah mirip salah satu dewi Yunani – yaitu Dewi Artemis – seorang dewi yang diasosiasikan dengan bulan dan busur besar lengkap dengan anak panah, seorang dewi yang mengendalikan alam liar, begitu tenang dalam keramaian, duduk sendiri dibawah pohon taman kompleks perumahanku – sedang membaca buku Karen Kingsbury – matanya fokus pada bacaan, tenggelam dalam kalimat-kalimat buku A Thousand Years yang tidak asing bagiku.”

“Tiba-tiba ia terhenyak dan memandang lekat ke siku sebelah kirinya, kurang dari satu detik Dewi Artemis itu melompat kaget kesembarang arah, kehilangan keseimbangan dan menabrak Caramelo Frappe ditanganku sebelum aku sempat menghindar.”

“Rupanya dari tadi ia tidak sadar kalau ada kecoa yang bertengger ditangan mungilnya.”

“Kepanikan terlihat jelas kedua bola mata Dewi Artemis itu. Ia buru-buru minta maaf dan mengatakan akan mengganti Caramelo Frappe-ku, diam-diam aku bersyukur kopi itu tidak tumpah kearahnya ataupun kearahku.”

“Aku seperti terhipnotis oleh kedua matanya yang memberi kesan teduh, bentuk hidungnya yang klasik dan bibir tipis yang bertengger memancarkan warna ceri segar,”

“Dia cantik sekali” Aku tersenyum samar. Bara masih melanjutkan rahasianya dengan kertas-kertas itu.

“Setelah mengganti Caramello Frappe-ku, kukira Dewi Artemis itu akan langsung pergi,”

“Ternyata ia justru mengambil tempat duduk tepat disebelahku – dikursi panjang taman kompleks – aku dapat melihat jelas dari sudut mataku, bahwa ia sedang menahan keinginan untuk menyapa atau bertanya sesuatu padaku…”

“Jujur saja saat itu aku gugup bukan main, apa yang harus aku perbuat jika ia akan membuka sebuah pembicaraan? Bagaimana jika ia ingin tahu siapa namaku?”

“Lalu kami tenggelam dalam pikiran masing-masing, duduk berdua dengan perempuan asing, maksudku Dewi Artemis – begitulah aku memanggilnya sesaat sebelum aku tahu siapa namanya,”

“Bocah-bocah bersepeda yang berlalu-lalang pun menjadi saksi bisu bahwa tidak seorang dari kami memperkenalkan diri.”

“Aku ingin sekali menyapanya lebih dulu, berterimakasih karena sudah mengganti Caramello Frappe-ku dan bertanya namanya, dimana rumahnya, mengapa aku belum pernah melihat ia sebelumnya, buku novel favoritenya, makanan kesukaannya – segalanya.”

“Aku mengutuk diriku sekali lagi,”

“Tetapi saat itu, sebuah pemikiran bodoh muncul dalam benakku, bagaimana jika ia adalah benar seorang dewi Yunani? Dewi Artemis yang dongengnya disamarkan bahwa ia masih berada didalam hutan untuk mengendalikan keliaran alam? Mungkin Dewi Artemis juga butuh hiburan, juga butuh membaca novel dan duduk ditaman agar mengetahui perubahan alam liar menjadi jinak atau sebaliknya. Ia bisa saja pergi sebelum aku sempat menatapnya lagi dengan sudut mataku,”

“Tahukah kau, seorang pria yang jatuh cinta bisa saja bertindak bodoh, kapan saja dan dimana saja? Aku harapkan kebijakan untuk tidak meledekku, setelah kau selesai menonton video ini.” Aku tertawa bersamanya. Bersama Bara disampingku. Kemudian Bara di video melanjutkan ceritanya.

“Lalu kukeluarkan note kecilku yang selalu ku bawa, dan pulpen biru yang menggantung disisi kanannya, dan kutuliskan dengan pelan ‘Terimakasih sudah mengganti Caramello Frappe-ku’”

“Dewi Artemis itu membalas dengan sebuah senyuman, senyuman tipis yang bertahan dua detik setelahnya,”

“Singkat cerita, aku tahu namanya. Ternyata dia bukan Dewi Artemis, atau dewi-dewi Yunani yang lain. Namanya Redina. Menurutku nama itu indah, bukan begitu?”

“Re mengerti aku. Ia mengetahuinya sebelum aku sempat memberitahu. Lalu ia bercerita banyak hal dan aku menjadi pendengar yang senantiasa memusatkan konsentrasiku padanya,” “Ia juga bercerita tentang dirinya yang bukan asli keturunan Indonesia, ibunya asli orang Inggris. Pantas saja ia mewarisi mata teduh, rambut coklat terang dan kulit putih pucat yang membuatku berpikir ia adalah kembaran Dewi Artemis.”

“Kemudian, kesenangan itu seperti menyihir kami dan aku tidak bisa berhenti bertemu dengannya.”

“Ada banyak sekali kisah rahasia antara aku dan Dewi Artemis-ku,”

“Kisah tentang bagaimana aku mengajarinya menggunakan sepeda, sampai dongeng malam yang dibacakannya untukku lewat telpon rumah.” Sepasang mata coklat itu menerawang. “Aku mempunyai seseorang yang mengertiku lebih dari aku mengerti diriku sendiri.”

“Orang itu kamu, Re.” kertas itu berhenti digenggaman Bara selama sepuluh detik penuh.

“Tapi sekarang, Dewi Artemis-ku akan bersiap kembali ke alam liar untuk mengurus banyak hal. Jangan lupa membawa busur besar dan anak panahmu ya.”

“Maaf selama ini aku diam saja. Maaf selama ini aku tidak dapat menceritakan kisah-kisah rahasia itu dengan detail seperti yang kau lakukan.” Aku mendapati Bara yang tertunduk di video itu. Dan mulai mengganti lagi kertas ditangannya.

“Maaf aku tidak bisa meyakinkan orangtuamu. Aku tidak henti-hentinya mengutuk diriku atas ketidakmampuanku.”

“Tembok tidak kasatmata itu sudah mulai dibangun diantara kita. Panjang tembok itu 8656mil, Re. Panjang sekali bukan?”


“Jangan coba menghancurkan tembok itu. Kau tak akan bisa menentang ayahmu. Cobalah mendakinya, berjalanlah diatasnya. Aku bisa menunggu. Kembalilah lagi jika urusan ‘alam liar’ itu sudah terselesaikan.” 

“Aku akan menunggu Dewi Artemis-ku seperti kisah Odiseus dan Penelope yang pernah kau dongengkan padaku. Odiseus dan Penelope yang terpisah karena peperangan tetapi masing-masing insan tetap menjaga cintanya dengan menolak lamaran dari orang lain, seperti yang pernah kau katakan bahwa itulah cinta sejati, iyakan Re?”

“Menunggu bukan hal yang berat bagiku, Re. Aku sudah menunggu seumur hidupku dan bertanya-tanya kapan Tuhan akan menganugrahi ku suara.”

“Kapan ia mengizinkanku berbicara? Aku ini seorang tuna wicara, Re. Dan kau mengetahuinya sebelum aku sempat memberitahu, pada hari pertama kita bertemu.”

“Lalu selepas hari itu, kau tidak pernah gagal memahamiku.”

“Aku menyayangimu Re. Sungguh. Berharap dapat mengatakannya secara langsung bukan dengan tulisan atau bahasa isyarat.”

Aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Ku genggam erat tangan Bara dan tidak ingin melepasnya untuk Max Steward manapun, demi Tuhan.

”Kembalilah jika menurutmu Max Steward tidak tahan mendengar ocehanmu sepanjang hari, percayalah aku ini pendengar terbaik yang kau miliki.” Aku tertawa membaca tulisan dikertas itu dan mengiyakan dalam hati. Bara benar.

Bara menarik tubuhku pelan kearah tubuhnya. Menyentuh pipiku yang basah dan menghapus air mata disana.

“Redina…” Tulisan itu berganti lagi.

“Terimakasih sudah mengganti Caramello Frappe-ku.” Bara di video tersenyum samar. Sepasang mata coklat itu mengatakan kalimat perpisahan. Bara meletakkan tangan kanannya di paras dada, kelima jarinya mengepul dan berputar searah jarum jam, kemudian kepalan tangan itu membuka, Bara meletakkan jari-jari tangannya dibibir dan mengayunkannya kearah kamera – merupakan detik terakhir dari video itu, Bara menutupnya dengan bahasa isyarat yang mengatakan ‘Maaf’ dan ‘Terimakasih’.
Subscribe to: Posts ( Atom )

Menu

  • Home
  • About

LATEST POSTS

Blog Archive

  • ►  2022 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (10)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2020 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  December (3)
    • ►  September (1)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2018 (14)
    • ►  December (5)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (3)
  • ►  2017 (57)
    • ►  December (2)
    • ►  September (3)
    • ►  August (5)
    • ►  July (6)
    • ►  June (5)
    • ►  May (7)
    • ►  April (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (8)
    • ►  January (9)
  • ►  2016 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (4)
    • ►  September (4)
    • ►  August (7)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
    • ►  January (3)
  • ►  2015 (34)
    • ►  December (3)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (7)
    • ►  July (2)
    • ►  June (3)
    • ►  April (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (8)
  • ►  2014 (1)
    • ►  February (1)
  • ▼  2013 (1)
    • ▼  November (1)
      • Dewi Artemis
Powered by Blogger.

Laman

  • THE BLOG
  • ABOUT
  • CATEGORIES

The Author

silver lining
View my complete profile

Latest Posts

Blogroll

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi

Flickr

Copyright 2014 Silver Lining.
Designed by OddThemes