Silver Lining

ranger riding through an open space

Home Archive for September 2015
kadang aku berharap bisa merangkul mereka semua 
semua sahabat-sahabatku diwaktu yang sama
aku ingin bertemu dengan mereka disebuah cafe sunyi yang dipenuhi kami saja
lalu bertukar cerita dari masa ke masa

kadang sulit untuk tetap berhubungan dengan mereka yang jauh
atau mereka yang terlalu sibuk
atau mereka yang memilih menjadi dewasa lebih dulu

tapi biar seperti apapun mereka semua adalah bagian dari diriku
sedikit banyak mereka yang membuat menjadi aku yang sekarang 
dan mereka yang mengajarku banyak hal
perihal perasaan hingga hal yang dekat dengan keajaiban

kadang aku berharap bisa mengetuk pintu rumah mereka
saat aku tiba-tiba merindukan salah satunya sambil membawakan sekeranjang buah 
dan beberapa berita manis

aku rindu masa-masa dimana kami membutuhkan diri masing-masing 
dan ada rentetan hari yang sudah di setting untuk kita lalui bersama
aku rindu masa-masa konyol dan tertawa lepas sampai rahangku nyeri
aku rindu semua masa aku dengan sahabatku
aku harap mereka membaca ini
kalau saja aku lupa memberitahu kalau aku merindukan mereka 
Dreams are nightmares
They haunt me every single day
They always been in my mind
And won't let me be alone even when I fall asleep


Seeing this picture is totally blow my fucking mind. 

Suddenly I feel so small. Look at that, imagine that. How come in that super huge universe we are the only creature that exists? It kinda freaks me out. 

Also, how come there's only one typical planet that fit humans need? 

Ah. I just want to share this picture and remind you that we are so little in this world and let it haunts you.... because it already haunts me everytime I look at the sky and feels like out there there are some 'things' looking for us. 



Enough with these goosebumps attack, I'm just gonna grab some snack.
Apa kamu ingat saat pertama kali kamu ajak aku untuk berjalan bersamamu? Menggandeng tanganmu dan tidak ragu dengan seorang laki-laki seperti dirimu? Apa kamu ingat saat pertama kali kamu menjelaskan padaku kalau ada banyak abu-abu yang menunggu kita nanti? Apa kamu ingat saat pertama kali abu-abu menyerang kita berdua dan berjalan berdua terasa mulai berat? Apa kamu ingat saat kita membagi beban bersama tapi kita tetap bergandengan?

‘Kita’ tidak pernah mudah. Kamu dan aku yang paling tahu. Tapi kita tidak pernah saling melepaskan. Kita tidak pernah memilih berpisah. Dan kita tidak pernah mengambil jalan yang berbeda saat ada simpang tiga. Kita selalu mengambil jalan yang sama, kita selalu berjalan sesampingan walau itu menuai banyak air mata.

Pada kenyataannya kamu tidak membawaku kemana-mana. Belum. Kita belum mendekati masa depan yang direncanakan. Tapi aku menikmatinya karena tidak ada yang lebih kuinginkan selain tetap berjalan bersamamu, entah itu menuju serangkaian abu-abu lain, aku tidak peduli.

Aku sayang kamu, lebih dari apapun, kamu tahu kan?

Tapi kita tidak bisa selalu menjadi naif. Kita bisa saja terlalu tenggelam dalam kasih sayang dan lupa dengan apa kita sebenarnya. Dan kita bisa lupa dengan perjalanan kita yang mirip seperti jalan ditempat. Kita bisa mengesampingkan para penghalang.

Lalu pada titik tertentu, hal yang kita takutkan akan datang juga. Masa-masa dimana kita masih ingin berjuang tapi perjuangan itu tidak akan membawa kita kemana-mana dan terlalu banyak abu-abu yang menyerang.

Tidak ada yang bisa kita lakukan selain melepas genggaman atau kita berdua akan terluka karenanya. Walau akan terlalu berat untukmu melepaskan dan terlalu sakit untukku merelakan – akhirnya inilah jalan harus kita ambil agar kita sama-sama selamat.

Lalu kamu bilang “Mari kita ambil jalan pintas. Kita tidak perlu memutar, kita tidak perlu berjalan terlalu jauh, aku takut nanti kamu kelelahan. Jadi lebih baik kita berjalan terpisah dan bertemu di persimpangan selanjutnya, setelah itu kita bisa menyambung jalan bersama lagi. Tapi kamu harus percaya padaku sepenuhnya. Benar-benar sepenuhnya. Percayalah aku tidak akan tergoda dengan apa yang aku temui di jalan nanti. Percayalah aku akan sampai lebih dulu di persimpangan dan aku akan menunggumu, selama apapun itu. Aku tidak akan peduli selambat apa kamu berjalan tanpa aku. Yang terpenting adalah kamu tetap berjalan kearah ku. Jangan kira aku tidak takut kehilanganmu. Aku sangat ketakutan. Tapi takutku kalah karena aku percaya padamu. Dan kamu pun harus begitu. Percaya padaku. Aku janji, kita akan berjalan berdua lagi, nanti.”

Sesungguhnya aku mengutuk ide ini. Aku benci dengan segala kemungkinannya. Dan aku tidak ingin berjalan sendirian dengan membiarkanmu berjalan sendiri pula. Tapi aku tahu ini adalah jalan yang terbaik yang bisa kita ambil.

Sekarang mari saling melepaskan. Dan saling mencari jalan kembali berdua. Aku harap jalan itu bersih dari penghalang dan abu-abu.

Hidup dengan bahagia dan tetap ingat aku. Kita akan bertemu di setiap episode bunga tidur. 
Doakan aku, kudoakan kamu. Sampai pada saat kita bisa berdoa dengan ayat yang sama.







Oh, ya, satu lagi. Aku sayang kamu, lebih dari apapun, oke?
Pada meja bundar itu kami berkumpul. Kami bertiga. Walau seharusnya aku dan Wawan berdua dan si jalang itu di pihak lawan sendirian. Tapi aku mulai ragu sejak kebohongan-kebohongan kecil mulai dilontarkan oleh Wawan – pria yang seharusnya paling jujur kepadaku. Lalu kebohongan-kebohongan itu menjadi besar dan rumit. Hingga dia mabuk dalam alibinya sendiri.

Aku tidak mau memanggilnya pembohong. Karena aku tahu bagaimana dia. Aku tahu wataknya. Aku tahu sifat dan kebiasaannya. Pokoknya aku yang paling tahu dia. Sejujurnya, aku tahu dia tidak bermaksud begitu. Dia tidak merencanakan kebohongan. Tapi mungkin dia terlalu takut melukai perasaanku – dan terlalu naif untuk menyerah pada hasrat menggapai perempuan lain.

Karena kebohongan-kebohongan rumit itu kami berkumpul. Kami bertiga. Aku tidak yakin siapa yang berdua dan siapa yang sendiri. Siapa yang melawan siapa dan siapa yang menghianati siapa.

Tanganku bergetar hebat hingga bergidik. Aku menyembunyikannya dengan baik. Aku ingin berteriak dan menjadi marah didepan mereka berdua. Aku menahannya dengan sabar. Dan air mataku sudah memaksa keluar, tapi jalang itu tidak pantas melihatnya.

Jadi kupaksa diriku bertahan untuk tetap duduk diantara mereka dan mencari kebenaran yang diselipkan dalam hubungan dua orang itu.

Aku marah dan benci melihat jalang itu disisi lain meja bundar. Dia seharusnya tidak ada disana. Seharusnya siang ini adalah siang normal yang kuhabiskan dengan Wawan – mengobrol tak karuan berjam-jam disebuah warung kopi mahal, membolos kuliah dan menunggu senja datang.

Tapi aku juga marah dan tak habis pikir ketika ku putar pandanganku padanya. Aku yang paling kenal orang itu lebih dari perempuan manapun, justru aku yang linglung dengan kelakuannya dibelakangku.

Seharusnya dia tidak membiarkanku marah dan frustasi seperti ini kan? Aku kan perempuannya. Dia wajib menjaga perasaanku kan?

Dia seharusnya yang paling mengerti kalau perempuan manapun tidak suka jika posisinya digantikan oleh perempuan lain. Tapi dia membiarkan jalang itu duduk disampingnya ketika dia menyetir. Dia membiarkan jalang itu menggandeng tangannya dalam gelap. Dia membiarkan jalang itu tahu tentang cerita hari-harinya.

Yang seharusnya hanya aku yang tahu. Hanya aku yang boleh duduk disampingnya ketika dia menyetir, hanya aku yang menggandeng tangannya dalam gelap – maupun terang, hanya kepadaku seharusnya dia membagi cerita tentang hari buruk dan baiknya.

Tapi dia justru membagi posisi istimewaku menjadi dua. Aku sudah bukan tunggal lagi. Dan kepada siapa harusnya aku marah?

Dan saat jalang itu mencuri lihat pada dua pasang bola mata Wawan, lalu mereka berbahasa dalam nada kesal – seperti menyalahkan satu sama lain, seperti dua kucing yang ketahuan mencuri ikan.... aku berbisik pada diri sendiri –

Jalang itu yang diantara kami berdua atau aku yang diantara mereka?


This afternoon, you came with no warn.
Perhaps because my phone is non-active since yesterdays.
You were standing outside the house and calling my name.
With your new uniform and your typical jacket you use all the time.

You and your straight face.

It changed when I opened the door.
And I smiled.
Because it was you, knocking my door and not anybody else.

I knew you missed me.
I knew you for awhile.
So I can read you some time.

This afternoon was an afternoon well-spent.
We barely talked to each other because my nephew got it between us.
Mumbling about some cartoon character.
And did stupid act.

You and your jokes.

I'm glad you were here when I didn't expect you at all.
Because that's just the way you are.
And I smiled.
It was you and it's always been you.


look at me
writing shits about you again
eventhough I curse these feelings 
You probably already knew that I'm a first child of two, so practically I have a little sister  - which is not having a really good realtionship with me.
I always wanted to have a big brother since I was a child because I imagine that if I had one, my life would be so much easier. 

My-non excist-brother would help me do my homework, 
he would take me to watch movies in the cinema, 
he would buy me ice cream, 
he would teach me to play guitar, 
he would ask me about my opinion of his new girlfriend
he would protect me from the world 
and he would save me from broken hearted

Unfortunately, I gotta do it all by myself

Noone help me do my homework
Noone take me to watch movies in the cinema - but my friends
Noone buy me ice cream - but myself
Noone teach me to play guitar (I learned by myself and didn't succeed until now)
Noone ask me about my opinion of his new girlfriend 
Noone protect me from the world - but my parents
and noone save me from broken hearted - so I learned from the experience and the broken feeling

But I went to a place where I can meet new people
Learn so much
And get message from each of everyone 

In that place, I met 4 special guy which are getting real close to me as a brother
Then in some point I realise that perhaps this is the feeling of having a big bro who protect you and tell the right thing to do to you and become someone you wanted to make them feel proud besides your parents. 
That feeling was kind of strange to me but also nice and excited at the same time.

So, for them four amazing brother, I wanna intoduce them into my life :

FIRST


His name is Riza. I knew him in a Listening class. I only have one class with him but he is so kind and fun. He's from Tasikmalaya (I always thought that Tasik is the same with Bandung, Pardon me bro!) and he talks really calm, that's so opposite of me =>
He's one kind of a brother who remaind his little sister not to forget to pray and keep their motivation and the spirit up. The kind of brother that feel happy for others joy and not afraid to give without take. The kind of brother that always obey the rules of family.

"pray and then you can do whatever you want"


SECOND

"dek, let's go break the rules!"

Nah! This is the kind of brother that likes to do things againts the rules. The one that kind of lazy and stubborn and loud. But this is the kind of brother that I can be crazy with and I can always invite him to break the rules. This kind of brother isn't always care about you because he thinks you can take care of yourself and you are already grown up, he never interfere your problems and your relationship with your boyfriend - but secretly, he's always be there. He's gonna be there when you need him. He's there to protect you and to help you heal from broken-hearted.
He's the puzzle that gonna complete the three other amazing brothers.

I met him in classes. Three classes to be exact. 
He's Agung from Padang and still taking Public Relation in UnPad. 
'Paka Ang!'

THIRD

"take care of yourself, dek"

My silly brother from Papua! 
No, he actually a Javanesse but he lives in Papua and he always talks about that place. 
About the beauty of Raja Ampat and the way they survive in the east area of Indonesia which is pretty hard. He is a wise guy. The one that's gonna give his little sister advices. He'll tell you what should you do and what you shouldn't. 
Call him Vian or Pace or whatever you want XD
He's the kind of brother that's gonna be succeed before anyone else does. The kind of person that work hard to make the family proud and have a nice life. He's that person who take care of things by himself and not being cranky or complain. 
He's the motivation for his little sister to be a better person. 
He's the person that's gonna choose his family over his business. 
I meant to say that because I knew he is. He came to the airport just to watch his little sisters left. 
He'll make sure that everything is going to be okay. 

THE LAST ONE BUT NOT LEAST

If something goes wrong and the 3rd brother couldn't fix it, just knock his door and leave it to him.

well, he's the oldest. The one that makes rules. The one that's gonna lead his siblings. The one that have the biggest responsibility. He's the kind of brother that's gonna choose his little brother over his girlfriend. The one that's gonna buy me ice cream. The one that's gonna take me to watch the movie. 
He's the one that gonna teach me to hold to the responsible and not to let someone down. 
He's gonna teach me how to make things - not to destroy them. He's the brother I'll always proud of,
And he's the one that's gonna take you to see the world someday.

I call him Daeng, but his real name is Idul Fitrah. I like Daeng so much more because that will make his identity appears as a Makassar people.

He's also a hard worker. He always there for his family. He's the nicest brother I can possibly have. 
And thank God, I do. 
I have an amazing brother like him and that is something you can't buy in any store. 



I'm so blessed to have an oppportunity to know them all. 
For being called 'dek' and being protected. 
For being the one they spend their time to check on my days.
For being their little sister.

I hope all of my brothers will find their way to succeed just like what they want.
They'll make their families proud and lucky to have them.
I hope every step they take is the step for the goods.
And when they made it someday, we'll meet again. 
Gather in some places. 
Talk about our lives.
Throw the same stupid jokes all over again.
But that doesn't mean we lost contact to each other. 
Every morning is a 'check situation' moment =D
And I like it. Thank you bro.
Subscribe to: Posts ( Atom )

Menu

  • Home
  • About

LATEST POSTS

Blog Archive

  • ►  2022 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (10)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2020 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  December (3)
    • ►  September (1)
    • ►  August (3)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2018 (14)
    • ►  December (5)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (3)
  • ►  2017 (57)
    • ►  December (2)
    • ►  September (3)
    • ►  August (5)
    • ►  July (6)
    • ►  June (5)
    • ►  May (7)
    • ►  April (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (8)
    • ►  January (9)
  • ►  2016 (34)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (4)
    • ►  September (4)
    • ►  August (7)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (4)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
    • ►  January (3)
  • ▼  2015 (34)
    • ►  December (3)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ▼  September (7)
      • Rindu Masa Itu
      • Dreams
      • Our Place in This Universe
      • Berjalan Dengan Kamu
      • Pada Meja Bundar Itu
      • I heard it. I just want you to say it twice.
      • 4 Amazing Brothers
    • ►  July (2)
    • ►  June (3)
    • ►  April (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (8)
  • ►  2014 (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  November (1)
Powered by Blogger.

Laman

  • THE BLOG
  • ABOUT
  • CATEGORIES

The Author

silver lining
View my complete profile

Latest Posts

Blogroll

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi

Flickr

Copyright 2014 Silver Lining.
Designed by OddThemes