benar atau tidak, disaat kita akan bertemu lagi dengan seseorang dari masa lalu yang tidak pernah terlihat sekian lama, kita akan mulai membayangkan saat pertama kali bertemu dengan orang itu.
aku langsung ingat pertama kali bertemu dia.
suatu hari di sebuah acara lomba anak SMA. saat itu aku bukan pribadi yang luwes dan suka bergaul. aku pemalu dan tidak mengenal siapapun. sampai ia duduk di sebelahku dan kami menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh narator lomba. bahkan sampai saat itu aku belum tahu namanya.
lalu seorang teman memanggilnya Ichsan. oh jadi itu namamu. oke, aku akan mengingatkan baik-baik. di lomba itu kami menang. dengan klasiknya, kami berfoto ria bersama piala juara dua. aku sudah mulai santai dengan keadaan atau mungkin karena suntikan kemenangan.
aku tidak menghitung sudah berapa lama kami tidak bertemu. tapi dapat kupastikan bahwa itu cukup lama, hingga aku bisa merindukannya. ngomong-ngomong soal rindu, ia tidak banyak percaya tentang kata 'rindu' yang aku ucapkan. aku tidak heran. aku jahat. aku tahu. seems like every word that came out of my mouth was bullshits.
anyway, minggu depan aku akan ke Jogjakarta bersama ibu dan adikku. hanya empat hari saja. awalnya aku hanya akan menghabiskan waktu liburan dengan mereka dan dua sahabatku yang kuliah disana. tapi kemudian rindu itu datang.
aku menghubunginya. berharap bisa menyita sedikit waktu untuk mengabari aku akan pergi ke pulau Jawa dan membujuknya untuk memesan tiket kereta api dari Malang ke Jogja.
hmmm, I don't know why but I'm dying to meet him.
saat aku memberitahunya, dia ragu. dia selalu ragu sejak kejadian itu. sekarang pun masih begitu. dia selalu ragu. pokoknya, ragu. and it breaks my heart into pieces, it feels like you borrow his socks but never gave it back and now wanted to borrow another one, he doubt like hell.
tapi sudah dasarnya dia tidak pernah benar-benar merasa benci karena kejahatan yang kulakukan itu, dia bilang iya. dia pesan tiket dan membayarnya. aku bayangkan betapa keputusan itu akan mengubah keadaan yang terjadi diantara kita nanti. apa aku bisa memperbaiki kepercayaannya terhadapku atau justru sebaliknya. apa aku bisa sedikit menghapuskan kenangan buruk dan menggantinya dengan lebih baik selama dua hari nanti. apapun yang dipikirkannya, aku senang dia membeli tiket itu.
dua orang yang jarang bertemu ini, punya empat puluh jam untuk dihabiskan bersama. tapi tidak punya pilihan tentang bagaimana akhirnya.
ABOUT THE AUTHOR
Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete