Living a broken home-life
aku salah satu dari anak broken home. tapi bukan salah satu dari mereka yang tega menghancurkan diri sendiri karena hal itu. aku terlalu sayang diriku sendiri untuk melukai dan membuang diri ke jalanan, bergaul dengan kelompok, geng atau apalah.
aku salah satu dari mereka yang memilih bertahan. aku sengaja menggunakan kata 'memilih' karena memang itulah yang terjadi. disaat dilema itu datang, saat kata-kata "ibu dan papa akan bercerai, kamu mau ikut siapa?" dikumandangkan, disana aku memilih. aku memilih akan tinggal bersama siapa. dengan konsekuensi dan resiko masing-masing. dan aku sadar setiap pilihan yg ku buat kan menghasilkan sesuatu yang berbeda dilain hari. takdir sudah dituliskn tapi nasib masih ditangan. terombang-ambing mengikuti kemauan, bahkan kadang sebuah koin berkepala dua yang menentukan nasib kita.
aku salah satu diantara mereka yang memilih bangkit. aku ingin berdiri dan menunjukan bahwa latar belakangku, kejadian pahit itu, rusaknya keluargaku, sama sekali bukan apa-apa dibanding diriku yang sebenarnya. aku jauh lebih kuat dari cobaan yang Tuhan berikan. aku jauh lebih kuat dari sekedar air mata dan mata yang sembab.
aku memilih ikut ibu. rata-rata anak perempuan akan memilih beliau, tentu saja. walau aku tahu konsekuensi memilih ibu adalah kami harus mulai segalanya dari bawah, dari 0. sedangkan kalau aku memilih papa, dia sudah punya segalanya, aku tidak perlu kehilangan satu barang pun di kamarku atau satu peser pun di dompetku.
tapi aku tetap memilih ibu yang 'waktu itu' belum punya apa-apa. umurku baru sembilan tahun dan aku mau ikut dengan ibuku.
lalu keesokan harinya teman-temanku selalu bertanya kenapa mataku bengkak. pertanyaan itu selalu kudengar setiap pagi dari beberapa orang yang berbeda, bahkan saat itu aku dapat membedakan mana temanku yang benar-benar peduli atau sekedar ingin tahu saja. tapi lama kelamaan, pertanyaan itu menghilang seiring mataku yang sudah terbiasa bengkak. menangis diam-diam di kelas bukan hal tabu lagi.
aku anak umur sembilan tahun yang penuh tanda tanya dalam hidupnya.
aku bisa saja menyerah dan mogok belajar atau melarikan diri sepulang sekolah. tapi aku tidak melakukan itu. kenapa? karena sesedih apapun yang kurasakan, aku merasa lebih tidak berdaya melihat ibuku menangis dalam sholatnya. menciumi sajadah, meminta-minta kemudahan. tidak sanggup rasanya anak sembilan tahun membiarkan ibunya menangis dalam tidur sampai berminggu-minggu. jadi aku putuskan untuk tidak memberi lebih banyak beban pada beliau. aku memilih menjalani kehidupan normal seperti teman-temanku.
"broken home tidak merubah siapa diriku sebenarnya"
ABOUT THE AUTHOR
Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible
0 Comments:
Post a Comment