Kenapa Pilih Kenotariatan UNAIR?

Greetings, Fellas! 

Aku mau cerita kenapa aku milih untuk melanjutkan pendidikan di magister kenotariatan universitas Airlangga a.k.a UNAIR. This post is to remind myself if in the future I hit the limit of stress or wanting to give up, this is the story where I climb up my own path. 

Sebelumnya, aku lulus dari fakultas hukum Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur tanggal 3 bulan April tahun 2018. Aku menyelesaikan pendidikan kurang lebih 3 tahun 10 bulan. Lulus dengan predikat alhamdullilah, cumlaude. Next, dive in to the story!

(personal opinion)

Jadi, sebelum memutuskan untuk daftar di UNAIR, aku sudah browsing kampus-kampus ternama seputaran Pulau jawa dan Bali yang menerima pendaftaran mahasiswa magister baru jurusan kenotariatan. Ada beberapa kampus yang jadi pertimbanganku:

  1. Universitas Diponogoro, Semarang
  2. Universitas Airlangga, Surabaya
  3. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
  4. Universitas Udayana, Denpasar
  5. Universitas Brawijaya, Malang

aesthetic, autumn, and books image
Dari kelima univesitas diatas, awalnya aku memutuskan untuk daftar di Brawijaya, jangan tanya kenapa, aku juga tak tau wkwk. Intinya aku serba impulsif aja, yang penting lengkapin berkas pendaftarannya dulu. Nah pas aku lagi proses pelengkapan berkas, aku dikejar sama deadline penutupan pendaftaran, yang dimana aku harus ngelengkapin banyak banget persyaratan yang dimauin sama Brawijaya. Singkat cerita, aku nyerah aja. Dicoretlah Brawijaya dari list future campus aku. 

Lanjut, kita coret lagi Universitas Diponogoro. Kenapa? Karena pas itu UNDIP sudah tutup pendaftaran yang dimana mulai pembukaan di awal tahun (itu mah sebelum aku s1) dan aku gak mau nunggu tahun depan. Kelamaan. Nah sisa 3 kampus. 

Surprisenya, pas bulan Mei, aku ikut program magang di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur selama kurang lebin 3 bulan. Disitu aku mulai galau antara mau lanjut s2 stau kerja aja. Saat-saat magang itu bikin aku mencicipi gimana sih rasanya kerja sama orang, disuruh-suruh, dan punya gaji. Awalnya oke, tapi ujung-ujungnya aku ngerasa, “oke, emang dasarnya aku gak suka kerja sama orang, aku gak suka dibawah tekanan orang lain dan kesana kemari disuruh ini itu, so thanks”. Magang jadi pengalaman paling berpengaruh dalam membulatkan keputusanku untuk lanjut belajar lagi.

Beberapa minggu sebelum jadwal magangku habis, UGM buka penerimaan mahasiswa magister kenotariatan, dan aku baru tau setelah h-2 tesnya. Jadi karena waktu, kita tidak berjodoh. Coret UGM, Sisa 2 kampus lagi. 

Dua kampus ini, UNAIR dan UNUD, memang dua kampus yang aku pengin lebih dari kampus lainnya. Kenapa? Sesimpel kalau Surabaya mau kemana-mana deket, kalau Denpasar berasa reuni pas PSG SMK.  Tapi akhirnya aku memutuskan unair karena takut kalau di Denpasar aku suka jalan-jalan sana sini dan gak fokus kuliahnya hahahaha.

So, UNAIR surprisingly membuka pendaftaran 4 kali dalam setahun. Aku ikut pendaftaran gelombang pertama semester genap. Yang aku suka banget dari UNAIR adalah SISTEM INFORMASI nya! Sumpah lengkap dan gampang banget dimengerti. Sistem informasi dan alur pendaftarannya dijelaskan sedetail mungkin dan bisa diakses mudah. (Ini adalah salah satu alasan kenapa aku pilin UNAIR!)

Selain itu, syarat pendaftarannya juga gampang banget, tinggal upload ijazah, ktp dan lain-lain, bayar via transfer, cetak kortu ujian, udah deh. Ready for the test!

Tes masuk di UNAIR ada 3 tahap yang musti diikutin semua ya! Gak sulit kok, asal dijalanin aja. Here it goes: 

  1. Pertama aku harus ikut tes kemampuan bidang hukum, UNAIR sudah kasih kisi-kisi terkait materi yang akan keluar nantinya, jadi make sure kita belajar sebelum ikut ujian supaya bisa jawab. Materi ujiannya ada 4, diantaranya PHI dan PIH, Hukum Perdata, Hukum Perseroan, dan Hukum Agraria. Plus bawa undang-undang yang berkaitan karena biasanya ada soal yang open book alias buka buku, guys!
  2. Tes TPA dan Bahasa Inggris. Ini tesnya pilihan ganda ya, kurang lebih 3 jam ngerjainnya. Kalau gak salah ada 100 soal.
  3. Wawancara. Disini kita diwawancarai sama dosen-dosen. Umumnya ditanya terkait pra proposal tesis yang kita submit di website sebagai syarat pendaftaran, di tanya soal skripsi, kenapa pilih UNAIR, sumber dana pembayaran SPP dari mana, tinggal dimana dan sebagainya.
Setelah melewati tiga tes itu, aku balik ke kampung halaman dan nunggu pengumuman hasilnya. Hasilnya diumumkan sesuai dengan jadwal yang sudah di share sama ppmb unair, tidak ada keterlambatan dan tidak ada eror dalam pengaksesan, pokoknya berasa di manja! 

Hasilnya, alhamdullilah lolos dan tinggal daftar ulang terus kuliah deh. 

Segitu dulu ya, kalau ada yang pengin ikut penerimaan magister kenotariatan unair dan butuh info lebih tentang tes atau apapun, comment down below! I’ll help as much as I can (karena aku tau rasa susahnya nyari info valid di internet) hahaha, ciao!

Picture source: weheartit.com/@AureolinXO 

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

4 Comments:

  1. Selamat mlm ka. Mau tanya.. Bagaimana kalau. Pd s1 d jurusan pidana tapi s2 nya ambil kenotarian?
    Makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo, untuk konsentrasi selain perdata saat s1 setauku bisa saja, yang penting harus sarjana hukum!

      Delete
  2. Kak mau nanya. Utk test wawancara apakah pernah ditanya pakai bahasa inggris??? Trus yang pertanyaan seputar skripsi di yang di S1 apa aja kak???

    ReplyDelete